Jumat, 17 Februari 2012

AWAS !! Cemas Berlebihan? Itu Gangguan Jiwa!!

KECEMASAN dan ketakutan menunjukkan respons yang mirip. Namun, keduanya sebetulnya berbeda. Ketakutan adalah respons emosional, psikis, dan perilaku terhadap ancaman yang berasal dari luar. Misalnya, takut bertemu dengan orang asing atau takut berada dalam mobil yang melaju sangat kencang.

Sedangkan kecemasan adalah respons terhadap sebuah keadaan emosional yang tidak menyenangkan dan yang sumbernya kurang jelas. Kecemasan seringkali disertai perubahan fisiologis dan perilaku yang mirip dengan yang disebabkan oleh ketakutan.

Kecemasan merupakan respon seseorang terhadap stress. Misalnya, putusnya hubungan yang sangat penting atau berada dalam situasi yang mengancam jiwa. Di sisi lain, kecemasan dianggap sebagai reaksi  terhadap dorongan seksual atau dorongan agresif yang tertekan.

Rasa cemas bisa timbul secara mendadak atau secara bertahap dalam hitungan menit, jam, atau hari. Bisa juga hanya berlangsung dalam hitungan detik. Atau rasa cemas terjadi selama beberapa tahun.

Masalahnya, tak jarang kecemasan seseorang tidak berfungsi dengan baik,  sehingga menimbulkan gangguan kecemasan. Gambaran semacam ini, menurut dr Andri SpKJ dari Universitas Kristen Krida Wacana, merupakan cerminan dari salah satu gangguan kejiwaan. Rasa cemas yang berlebihan digolongkan sebagai ganguan kejiwaan yang disebut Generlized Anxiety Disorder (GAD) atau gangguan kecemasan menyeluruh. Anda pernah menjumpai orang yang selalu merasa khawatir dengan segala macam hal, bahkan untuk hal-hal yang belum terjadi?

“Mungkin yang Anda jumpai itu adalah orang yang mengalami gangguan kecemasan menyeluruh atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Generlized Anxienty Disorder (GAD),” terangnya.

Gangguan kecemasan memang sangat dekat dengan perempuan. Namun, tak jarang laki-laki juga mengalami gangguan ini. Yang sangat disayangkan, tak banyak pasien gangguan kecemasan menyeluruh yang peduli terhadap kondisinya.

“Pasien kadang tidak berobat atau menunda pengobatan sebelum akhirnya merasa tidak nyaman sekali atau ketika keluhan-keluhan fisik (psikosomatik) sudah mulai muncul. Tidak heran biasanya kondisi ini menahun dan tidak mendapatkan pengobatan saat-saat awal orang tersebut mengalami kecemasan ini,” ungkapnya.

Pada gangguan kecemasan menyeluruh ini, yang harus diperhatikan adalah perbedaan yang tipis antara gejala kecemasan pada ganguan kecemasan menyeluruh dengan gangguan panik.

“Tapi ada beberapa hal yang khas untuk gejala pasien dengan gangguan cemas panik,” katanya.

Gejala tersebut, antara lain, rasa khawatir yang berlebihan, bahkan terjadi pada seluruh aspek kehidupan; sering kali pasien mengeluhkan rasa lelah yang berlebihan meskipun tidak ada aktivitas fisik yang menyebabkan rasa lelah; pasien  sangat mudah tersinggung atau terlalu sensitif. Gejala lainnya adalah mengalami kesulitan berkonsentrasi. Sedangkan gejala-gejala yang ditimbulkan pada fisik, antara lain kaku otot atau rasa pegal-pegal dan pasien sulit atau mengalami gangguan tidur.

“Biasanya tiga dari gejala ini dialami pasien untuk menentukan diaognosis suatu gangguan kecemasan menyeluruh,” ujar lelaki yang menjabat sebagai Assistant of Associate Professor, Psychosomatic Medicine Specialist.

Hingga kini, penyebab pasti dari gangguan ini belum diketahui. Namun, beberapa teori, terutama biologis dan psikologis, bisa menjelaskannya. Dalam teori tersebut, gangguan ini berhubungan dengan sistem di otak di mana ada ketidakseimbangan pada sistem monoamine, terutama sistem serotonin, sistem yang menghasilkan hormone yang membuat seseorang merasa bahagia, nyaman, dan tenang.

“Inilah yang membuat pasien dengan gangguan ini menjadi lebih baik jika diberikan obat antidepresan golongan SSRI seperti sertraline dan golongan SNRI seperti venlafaxine,” katanya.

Sedangkan secara psikologis, gangguan dapat dijelaskan dengan dua teori yang saling berhubungan. Pertama, Teori Psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Freud mengatakan bahwa kondisi ini terkait dengan konflik internal bawah sadar yang tidak terselesaikan dan akhirnya timbul dalam kekhawatiran yang terus-menerus sepanjang hidup.

Kedua, Teori Kognitif. Menurut teori ini, gangguan ini berkaitan dengan cara individu melihat sisi negatif dari lingkungannya. Orang lebih cenderung memilih sisi negatif. Gangguan ini akan memberikan pengaruh yang besar kepada pasien. Terutama kualitas hidup. Orang dengan gangguan kecemasan menyeluruh senantiasa berpikir negatif.

Bagaimana mengurangi atau mengobati gangguan ini? Dari sisi psikologi, pengobatan dilakukan secara psikoterapis. Dari sisi biologi, gangguan ini diobati dengan psiofarmaka.

“Obat golongan SSRI seperti sertraline dan obat golongan SNRI seperti venlafaxine dinyatakan telah banyak membantu perbaikan pasien dengan gangguan kecemasan menyeluruh. Buspirone juga merupakan obat antidepresan pilihan untuk terapi ini walaupun belakangan sudah lebih ditinggalkan pemakaiannya dalam praktik sehari-hari karena bekerja lebih lama dan sangat spesifik untuk gangguan cemas menyeluruh saja,” terangnya.

Sedangkan psikoterapi dengan pendekatan terapi kognitif dilakukan untuk mengurangi pikiran-pikiran negatif pasien atau mengalihkannya ke hal yang lebih positif. Di sini perlahan-lahan pasien diajarkan berpikir positif pada apa yang dihadapinya.

“Mengalihkan dan mengurangi pikiran-pikiran negatif ini pada praktiknya butuh waktu yang panjang, sehingga terkadang pasien harus mengikuti pengobatan sampai beberapa bulan bahkan tahun,

0 komentar:

Poskan Komentar